Prof.Koentjaraningrat, seorang antropolog, dalam bukunya Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, pernah
meneliti tentang kebiasaan menerabas sebagai budaya kehidupan
masyarakat kita. Menerabas disini maksudnya “memotong” jalan untuk
meraih sesuatu secara instan. Intinya kita tidak ingin bersusah payah
dan hanya mencari cara tercepat dalam mewujudkan keinginan kita.
Menurut Psikolog dari Rumah Sakit Pondok Indah, Roslina Verauli Mpsi, pemicu budaya instan adalah perubahan sosial yang menuntut kita bergerak cepat guna meraih hasil.
Menjamurnya budaya instan ini didukung oleh perkembangan teknologi. Hal ini diperkuat oleh pernyataan penulis buku Megatrends 2000 : The New Directions for the 1990’s, J.naisbitt dan P.Aburdene
yang bilang kalau era globalisasi memungkinkan timbul gaya hidup yang
global pula. Maka, orang berlomba-lomba menciptakan taknologi yang
semakin mempermudah hidupnya. Misalnya, kalau dulu HP berfungsi untuk
berkomunikasi, sekarang HP jug dilengkapi kamera, GPS, dan bahkan
berfungsi sebagai laptop. Kita nggak perlu ribet bawa segala macem karena semua sudah tersedia dalam satu gadget.
Budaya instan juga sukses membawa efek buruk dalam kehidupan kita, seperti :
1. *Membuat standar toleransi kita rendah,
2. *Kita jadi gampang menyerah,
3. *Efek lanjut dari rasa malas kita adalah menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang kita mau.
Kita memang perlu LATIHAN supaya tidak terseret arus budaya instan, bentuknya dapat bermacam-macam, seperti :
1. *Menunggu ,yang merupakan sesuatu yang baik,
2. *Melakukan sesuatu secara perlahan.
Yang
penting kita harus sadar kalau menginginkan sesuatu yang bagus dan
bernilai itu membutuhkan waktu untuk berproses. Kalau kita Cuma mau
yang instan saja, maka hasilnya pun akan instan juga, alias nggak
bertahan lama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar