Sabtu, 20 Juni 2015

Ketika Kematian Merenggut Cintaku

Seorang lelaki muda pintar yang bersikap acuh dengan semua wanita, bernama Roy Hermawan. Roy baru saja merayakan umur 17 tahunnya yang tidaklah spesial. Tanpa Ibu, tanpa ayah dan tanpa siapa-siapa, hanya Roy.

Hari ini adalah hari pertama sekolahnya. Ia sangat malas karena harus melanjutkan kehidupannya yang super monoton, seperti berangkat pagi ke sekolah dan siang hari kembali ke rumah, begitulah hari-harinya. Seperti biasa, dia berangkat sekolah dengan motor butut peninggalan kakeknya. Entah mengapa saat di perjalanannya ke sekolah, Roy selalu memperhatikan sekeliling jalan yang dipenuhi orang-orang dengan kesibukannya masing-masing.

Sesampai di sekolah, Roy melihat banyak anak-anak sekolahnya yang berpacaran dengan mesra di depan umum. Roy belum pernah sama sekali merasakan rasanya jatuh cinta. Selama ini, ia tidak pernah berpikir ingin memiliki pacar. Mungkin karena belum ada wanita yang bisa membuatnya merasa spesial. Tetapi, setelah Roy melihat orang-orang yang berpacaran di sekitarnya, ia merasa iri. Banyak pertanyaan yang timbul di kepalanya.
“Apa gue udah pantes buat dapet pacar?”
“Apa gue harus punya pacar?”
“Apa pacar gue nantinya bisa ngertiin gue?”

Roy sangat mengerti apa yang dialami sepasang kekasih yang sedang bersamaan. Bukan ia sering memata-matai sepasang kekasih yang sedang berpacaran, tetapi ia tidak sengaja pernah melihat pasangan itu sedang bertengkar di satu cafe langganannya saat malam minggu, Roy tidak bersama siapa-siapa di sana, dia hanya bersama benda mati, laptop. Roy melihat sepasang kekasih itu saling mengelak, masalah sepele yang selalu dibesar-besarkan oleh sang wanita kepada kekasihnya. Banyak yang membuat ia bingung menghadapi sikap wanita yang dengan tiba-tiba marah, bersikap acuh, terhadap kekasihnya. Sebab itulah Roy merasa tidak nyaman jika sedang bersama seorang wanita, dia tidak ingin membuang waktunya jika hanya sekedar beradu mulut tak jelas seperti hal yang dilihatnya di cafe waktu itu.

Saat pelajaran bahasa indonesia berlangsung, gurunya mulai bercanda gurau bersama murid-muridnya dengan topik “pacar”. Banyak teman kelas Roy yang sudah memiliki kekasih, ia mulai merasa bahwa dirinya tidak normal. Finally, Roy terus memikirkan tentang wanita, wanita dan wanita.
Di jalan pulang ke rumah, Roy melihat seorang wanita yang sepertinya sedang menunggu jemputan. Ia berhenti untuk memperhatikan wanita itu. Roy terus memperhatikan wanita itu dari pinggir jalan. Dalam benaknya “dia istimewa”. Roy berpikir, “Bagaimana cara untuk bisa berkenalan dengannya?” Hal yang sulit untuknya adalah, wanita itu tidak satu sekolah dengannya.

Keesokan harinya, Roy berangkat sekolah dengan angkutan kota, dia sedang tidak dalam kondisi baik jika harus mengendarai motor, karena ia tahu bahwa siang itu akan sangat panas sekali, ditambah lagi harga BBM melambung tinggi. Pagi itu buruk sekali, ia harus berdesak-desakan ketika di dalam busway, jalanan yang macet dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang, ditambah lagi dia harus bertemu dengan pelajaran yang sangat tidak ia sukai, Kimia. Sewaktu ia pulang sekolah, Roy bertemu lagi dengan sosok wanita yang sama persis dengan wanita kemarin di pinggir jalan dekat sekolahnya. Roy berjalan dengan pelan sambil memperhatikan wanita itu dari jauh, ia terus melihat ke arah seberang jalan sampai pada akhirnya ia tertabrak gerobak siomay yang sedang berjalan berhadapan dengannya. Roy merasa malu, karena banyak orang sekitar yang menertawakannya. Ia bergegas menyeberangi jalan karena tidak ingin terlalu lama larut dalam kegaduhan di sekitarnya.

Setelah menyeberangi jalan, Roy menghentikan langkahnya tepat di samping wanita yang ia kagumi sejak kemarin. Akhirnya, Roy memutuskan untuk memberanikan diri mengajak wanita itu bicara. Roy sangat gugup ketika ia sedang berhadapan dengan wanita itu, padahal wanita itu menyikapinya dengan santai. Roy mulai mengajak ia berkenalan, wanita itu pun hanyut dengan kepandaian Roy berbicara terhadap orang yang baru saja ia kenalnya. Sampai pada akhirnya, wanita itu dijemput oleh seorang lelaki yang berpostur tubuh besar menyeramkan. Roy hanya melemparkan senyum takut kepada lelaki itu.

Saturday Night. Roy sudah menyusun rencananya malam itu sejak lama. Dia ingin mencari sweet moment pasangan kekasih yang sedang bercanda gurau di suatu tempat favorit di Kota Semarang. Jalan Pahlawan, tempat itu terletak di tengah-tengah kota. Banyak dari kalangan anak muda yang ingin menikmati suasana indah malam Jalan Pahlawan, banyak juga pedagang-pedagang kaki lima yang berjalan-jalan menjual barang dagangannya. Dengan bekal kamera, Roy siap untuk mencari pasangan-pasangan kekasih disana. Tujuan Roy di sana adalah, ingin menawarkan jasa foto langsung jadi dengan upah sebesar Rp.20.000 per foto. Sudah sejak lama Ia menjalankan kerja sampingannya itu, dia selalu ingin mencoba mendapatkan uang dengan hasil keringatnya sendiri, dikarenakan juga untuk mengisi waktu-waktu kosong Roy di malam minggu. Roy berjalan memutari Jalan Pahlawan hingga Simpang Lima yang berjarak cukup jauh. Jam tangan Roy sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB tetapi ia belum juga mendapatkan pelanggan.

Sesekali Roy memotret anak-anak kecil yang sedang bermain di Taman Simpang Lima, ia tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang sedang bermain sepatu roda di depannya, seketika ia teringat masa kecilnya dahulu. Saat itu kedua orangtua Roy masih memanjakannya, dengan kehidupan yang mewah dan kasih sayang yang sempurna. Roy rindu kedua orangtuanya yang dahulu, bukan yang sekarang. Mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sampai-sampai mereka tidak ingat dengan hari ulang tahunnya seminggu yang lalu. Roy menerima keadaan orangtuanya yang jarang di rumah karena tugas dinas keluar kota, tetapi ia tidak pernah terima jika kedua orangtuanya tidak mempunyai waktu sedikitpun untuk anak tunggalnya. Lamunan Roy terpecah ketika ada seseorang wanita yang menepuk pelan bahunya dari belakang. Wanita itu adalah Karin. Wanita yang berkenalan dengannya di seberang sekolah.

Roy terdiam sejenak melihatnya, dia terkejut ketika melihat perbedaan Karin pada saat bertemu di depan sekolah dengan yang ia tatap di malam itu. Roy mulai melontarkan satu per satu kalimat agar suasana tidak membuat wanita itu merasa bosan ketika bersamanya. Roy mengajak Karin berjalan-jalan memutari Taman Simpang Lima sambil bercanda tawa. Malam itu terasa panjang sekali untuk mereka. Roy menghetikan langkahnya dan dia mengucapkan sebuah kalimat yang membuat Karin sedikit terkejut. Roy meminta Karin untuk menerima cinta tulusnya, dan fix mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih. Mereka saling berpelukan di depan khalayak ramai pada malam itu.

Semenjak itu mereka semakin sering menghabiskan waktu berdua. Sampai suatu saat, Karin tidak memperlihatkan diri lagi. Ia menghilang secara tiba-tiba tanpa mengucapkan kata perpisahan kepada Roy. Roy sudah mencoba menghubungi nomor ponselnya, tetapi tidak pernah ada jawaban. Semua Jejaring Sosial Karin sudah dinonaktifkan olehnya. Roy semakin bingung harus berbuat apa, sampai pada akhirnya ia berniat untuk mendatangi rumah Karin yang berada tidak jauh dari tengah Kota.

Roy menekan tombol bel yang berada dekat dengan pintu rumah Karin. Tidak lama setelah itu, keluarlah seorang Ibu, Ibu Karin. Kemudian Ibunya menjelaskan jika Karin tidak ingin bertemu dengan Roy lagi tanpa memberi alasan yang jelas. Dari sudut rumah keluarlah seorang gadis muda yang menunggangi kursi roda dengan bertubuh lemas. Roy sangat terkejut ketika melihat keadaan Karin yang tidak pernah Ia ketahui. Karin menjelaskan tentang keadaanya, ia mengidap penyakit Kanker Otak yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Air mata berjatuhan dari sudut mata Roy.
Semenjak hari itu, Roy berusaha meluangkan waktunya untuk berkunjung ke rumah Karin. Ia sangat ingin merawat kekasihnya, dia tidak ingin meninggalkan Karin begitu saja. Memberikan sesuap nasi, mempersiapkan obatnya, dan menemani hari-hari terakhirnya. Suasana hangat tercipta ketika mereka bersama, melakukan hal-hal manis yang belum tentu bisa dilakukan oleh pasangan kekasih lainnya.

Keesokan harinya Roy mengunjungi rumah Karin lagi, dengan semangat ia mengendarai sepeda motornya. Sesampai di rumahnya, Roy melihat kibaran bendera duka, ia melepas helmnya dan berjalan dengan lemas didampingi dengan air mata yang turun deras dari sudut matanya. Tidak ada lagi kisah-kisah indah, tidak ada lagi sosok wanita yang menemani hari-harinya, yang ada hanyalah kenangan sebuah nama yang takkan pernah tergantikan. Karin Raflesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar