Seorang
lelaki muda pintar yang bersikap acuh dengan semua wanita, bernama Roy
Hermawan. Roy baru saja merayakan umur 17 tahunnya yang tidaklah spesial. Tanpa
Ibu, tanpa ayah dan tanpa siapa-siapa, hanya Roy.
Hari
ini adalah hari pertama sekolahnya. Ia sangat malas karena harus melanjutkan
kehidupannya yang super monoton, seperti berangkat pagi ke sekolah dan siang
hari kembali ke rumah, begitulah hari-harinya. Seperti biasa, dia berangkat
sekolah dengan motor butut peninggalan kakeknya. Entah mengapa saat di
perjalanannya ke sekolah, Roy selalu memperhatikan sekeliling jalan yang
dipenuhi orang-orang dengan kesibukannya masing-masing.
Sesampai
di sekolah, Roy melihat banyak anak-anak sekolahnya yang berpacaran dengan mesra
di depan umum. Roy belum pernah sama sekali merasakan rasanya jatuh cinta.
Selama ini, ia tidak pernah berpikir ingin memiliki pacar. Mungkin karena belum
ada wanita yang bisa membuatnya merasa spesial. Tetapi, setelah Roy melihat
orang-orang yang berpacaran di sekitarnya, ia merasa iri. Banyak pertanyaan
yang timbul di kepalanya.
“Apa
gue udah pantes buat dapet pacar?”
“Apa
gue harus punya pacar?”
“Apa
pacar gue nantinya bisa ngertiin gue?”
Roy
sangat mengerti apa yang dialami sepasang kekasih yang sedang bersamaan. Bukan
ia sering memata-matai sepasang kekasih yang sedang berpacaran, tetapi ia tidak
sengaja pernah melihat pasangan itu sedang bertengkar di satu cafe langganannya
saat malam minggu, Roy tidak bersama siapa-siapa di sana, dia hanya bersama
benda mati, laptop. Roy melihat sepasang kekasih itu saling mengelak, masalah
sepele yang selalu dibesar-besarkan oleh sang wanita kepada kekasihnya. Banyak
yang membuat ia bingung menghadapi sikap wanita yang dengan tiba-tiba marah,
bersikap acuh, terhadap kekasihnya. Sebab itulah Roy merasa tidak nyaman jika
sedang bersama seorang wanita, dia tidak ingin membuang waktunya jika hanya
sekedar beradu mulut tak jelas seperti hal yang dilihatnya di cafe waktu itu.
Saat
pelajaran bahasa indonesia berlangsung, gurunya mulai bercanda gurau bersama
murid-muridnya dengan topik “pacar”. Banyak teman kelas Roy yang sudah memiliki
kekasih, ia mulai merasa bahwa dirinya tidak normal. Finally, Roy terus
memikirkan tentang wanita, wanita dan wanita.
Di
jalan pulang ke rumah, Roy melihat seorang wanita yang sepertinya sedang
menunggu jemputan. Ia berhenti untuk memperhatikan wanita itu. Roy terus
memperhatikan wanita itu dari pinggir jalan. Dalam benaknya “dia istimewa”. Roy
berpikir, “Bagaimana cara untuk bisa berkenalan dengannya?” Hal yang sulit
untuknya adalah, wanita itu tidak satu sekolah dengannya.
Keesokan
harinya, Roy berangkat sekolah dengan angkutan kota, dia sedang tidak dalam
kondisi baik jika harus mengendarai motor, karena ia tahu bahwa siang itu akan
sangat panas sekali, ditambah lagi harga BBM melambung tinggi. Pagi itu buruk
sekali, ia harus berdesak-desakan ketika di dalam busway, jalanan yang macet
dipenuhi mobil dan motor yang berlalu lalang, ditambah lagi dia harus bertemu
dengan pelajaran yang sangat tidak ia sukai, Kimia. Sewaktu ia pulang sekolah,
Roy bertemu lagi dengan sosok wanita yang sama persis dengan wanita kemarin di
pinggir jalan dekat sekolahnya. Roy berjalan dengan pelan sambil memperhatikan
wanita itu dari jauh, ia terus melihat ke arah seberang jalan sampai pada
akhirnya ia tertabrak gerobak siomay yang sedang berjalan berhadapan dengannya.
Roy merasa malu, karena banyak orang sekitar yang menertawakannya. Ia bergegas
menyeberangi jalan karena tidak ingin terlalu lama larut dalam kegaduhan di
sekitarnya.
Setelah
menyeberangi jalan, Roy menghentikan langkahnya tepat di samping wanita yang ia
kagumi sejak kemarin. Akhirnya, Roy memutuskan untuk memberanikan diri mengajak
wanita itu bicara. Roy sangat gugup ketika ia sedang berhadapan dengan wanita
itu, padahal wanita itu menyikapinya dengan santai. Roy mulai mengajak ia
berkenalan, wanita itu pun hanyut dengan kepandaian Roy berbicara terhadap
orang yang baru saja ia kenalnya. Sampai pada akhirnya, wanita itu dijemput
oleh seorang lelaki yang berpostur tubuh besar menyeramkan. Roy hanya
melemparkan senyum takut kepada lelaki itu.
Saturday
Night. Roy sudah menyusun rencananya malam itu sejak lama. Dia ingin mencari
sweet moment pasangan kekasih yang sedang bercanda gurau di suatu tempat
favorit di Kota Semarang. Jalan Pahlawan, tempat itu terletak di tengah-tengah
kota. Banyak dari kalangan anak muda yang ingin menikmati suasana indah malam
Jalan Pahlawan, banyak juga pedagang-pedagang kaki lima yang berjalan-jalan
menjual barang dagangannya. Dengan bekal kamera, Roy siap untuk mencari
pasangan-pasangan kekasih disana. Tujuan Roy di sana adalah, ingin menawarkan
jasa foto langsung jadi dengan upah sebesar Rp.20.000 per foto. Sudah sejak
lama Ia menjalankan kerja sampingannya itu, dia selalu ingin mencoba
mendapatkan uang dengan hasil keringatnya sendiri, dikarenakan juga untuk
mengisi waktu-waktu kosong Roy di malam minggu. Roy berjalan memutari Jalan
Pahlawan hingga Simpang Lima yang berjarak cukup jauh. Jam tangan Roy sudah
menunjukkan pukul 21.00 WIB tetapi ia belum juga mendapatkan pelanggan.
Sesekali
Roy memotret anak-anak kecil yang sedang bermain di Taman Simpang Lima, ia
tersenyum ketika melihat seorang anak kecil yang sedang bermain sepatu roda di
depannya, seketika ia teringat masa kecilnya dahulu. Saat itu kedua orangtua
Roy masih memanjakannya, dengan kehidupan yang mewah dan kasih sayang yang
sempurna. Roy rindu kedua orangtuanya yang dahulu, bukan yang sekarang. Mereka
yang terlalu sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, sampai-sampai mereka
tidak ingat dengan hari ulang tahunnya seminggu yang lalu. Roy menerima keadaan
orangtuanya yang jarang di rumah karena tugas dinas keluar kota, tetapi ia
tidak pernah terima jika kedua orangtuanya tidak mempunyai waktu sedikitpun
untuk anak tunggalnya. Lamunan Roy terpecah ketika ada seseorang wanita yang
menepuk pelan bahunya dari belakang. Wanita itu adalah Karin. Wanita yang
berkenalan dengannya di seberang sekolah.
Roy
terdiam sejenak melihatnya, dia terkejut ketika melihat perbedaan Karin pada saat
bertemu di depan sekolah dengan yang ia tatap di malam itu. Roy mulai
melontarkan satu per satu kalimat agar suasana tidak membuat wanita itu merasa
bosan ketika bersamanya. Roy mengajak Karin berjalan-jalan memutari Taman
Simpang Lima sambil bercanda tawa. Malam itu terasa panjang sekali untuk
mereka. Roy menghetikan langkahnya dan dia mengucapkan sebuah kalimat yang
membuat Karin sedikit terkejut. Roy meminta Karin untuk menerima cinta
tulusnya, dan fix mereka berdua telah menjadi sepasang kekasih. Mereka saling
berpelukan di depan khalayak ramai pada malam itu.
Semenjak
itu mereka semakin sering menghabiskan waktu berdua. Sampai suatu saat, Karin
tidak memperlihatkan diri lagi. Ia menghilang secara tiba-tiba tanpa
mengucapkan kata perpisahan kepada Roy. Roy sudah mencoba menghubungi nomor
ponselnya, tetapi tidak pernah ada jawaban. Semua Jejaring Sosial Karin sudah
dinonaktifkan olehnya. Roy semakin bingung harus berbuat apa, sampai pada
akhirnya ia berniat untuk mendatangi rumah Karin yang berada tidak jauh dari
tengah Kota.
Roy
menekan tombol bel yang berada dekat dengan pintu rumah Karin. Tidak lama
setelah itu, keluarlah seorang Ibu, Ibu Karin. Kemudian Ibunya menjelaskan jika
Karin tidak ingin bertemu dengan Roy lagi tanpa memberi alasan yang jelas. Dari
sudut rumah keluarlah seorang gadis muda yang menunggangi kursi roda dengan
bertubuh lemas. Roy sangat terkejut ketika melihat keadaan Karin yang tidak
pernah Ia ketahui. Karin menjelaskan tentang keadaanya, ia mengidap penyakit
Kanker Otak yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh. Air mata berjatuhan dari
sudut mata Roy.
Semenjak
hari itu, Roy berusaha meluangkan waktunya untuk berkunjung ke rumah Karin. Ia
sangat ingin merawat kekasihnya, dia tidak ingin meninggalkan Karin begitu
saja. Memberikan sesuap nasi, mempersiapkan obatnya, dan menemani hari-hari
terakhirnya. Suasana hangat tercipta ketika mereka bersama, melakukan hal-hal
manis yang belum tentu bisa dilakukan oleh pasangan kekasih lainnya.
Keesokan
harinya Roy mengunjungi rumah Karin lagi, dengan semangat ia mengendarai sepeda
motornya. Sesampai di rumahnya, Roy melihat kibaran bendera duka, ia melepas
helmnya dan berjalan dengan lemas didampingi dengan air mata yang turun deras
dari sudut matanya. Tidak ada lagi kisah-kisah indah, tidak ada lagi sosok
wanita yang menemani hari-harinya, yang ada hanyalah kenangan sebuah nama yang
takkan pernah tergantikan. Karin Raflesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar