Ada
sekelompok orang sedang berkumpul. Ketika mereka sedang bercerita dan bersenda
gurau, terlihat salah seorang dari kumpulan itu malah sibuk sendiri dengan
teknologi yang dimilikinya. Orang tersebut menampilkkan banyak pose dari
wajahnya. Ternyata, ia sedang mengambil foto atas dirinya sendiri.
Fenomena ini mungkin sudah tidak asing
lagi di kehidupan kita. Banyak orang menjadi sibuk sendiri bahkan terlihat ‘autis’
dengan teknologi terbaru yang dimilikinya. Biasanya orang yang seperti itu sudah sangat sulit untuk diajak berbicara. Mereka hanya memikirkan agar foto atas
dirinya tersebut terlihat cantik, tampan, tidak gemuk, rapih, dan seolah-olah
sempurna. Mereka lebih terfokus pada
teknologi yang ada di genggamannya daripada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Perkembangan teknologi yang makin maju membuat perusahaan
teknologi komunikasi berlomba-lomba untuk menunjukkan
kehebatannya melalui kamera di dalam teknologinya masing-masing. Hal inilah yang membuat banyak
orang sudah tidak terlalu ramai lagi menggunakan jejaring sosial hanya sebagai
media sosial. Saat ini mereka lebih memilih menggunakan media sosial seperti
path, instagram, facebook, dan flickr untuk ‘photo sharing’. Melalui media tersebut mereka dapat saling berbagi
foto dan mengumbar foto pribadi sesuka hati mereka. Dari sinilah penyakit
narsisme mulai muncul. Pertanyaannya, bagaimana teknologi informasi dapat
melahirkan karakter narsisme? Apakah
Anda merasa bahwa Anda lebih penting daripada orang lain? Apakah karakter narsisme
yang berlebihan dapat memunculkan adanya masalah sosial?
Kemajuan
teknologi makin tak terbendung. Perkembangannya begitu cepat dan selalu
menampilkan inovasi terbaru. Sejak awal internet
diyakini dapat membantu orang dalam hal berkomunikasi, terutama komunikasi
jarak jauh. Ironisnya, hal ini justru berbanding terbalik dengan realitas yang
ada. Perkembangan teknologi saat ini makin
menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh (The death of distance). Internet yang ingin menjadi solusi dalam
berkomunikasi malah mengisolasi komunikasi banyak orang, bahkan mengarah ke
sifat individualisme.
Sebuah survei yang diselenggarakan oleh Asosiasi
Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah
pengguna internet di Indonesia tahun 2012 mencapai 63 juta orang atau 24,23
persen dari total populasi negara ini. Ironisnya, sekitar 80% postingan di
media sosial merupakan sebuah cerminan diri dari penggunanya melalui album
foto. Dari sinilah dapat terlihat betapa hebatnya media sosial dapat memacu seseorang
untuk mengarah pada karakter narsisme.
Pribadi
narsis adalah pribadi yang mempunyai keinginan untuk mendapat perhatian secara
terus-menerus. Lebih dari itu, mereka ingin agar banyak orang mengamati,
mengagumi, dan ‘melihat’ dia. Hal ini menunjukkan
bahwa pengaruh media sosial terkait dengan tingkat karakter narsisme seseorang.
Media sosial menjadi penting bagi mereka sebagai sebuah sarana dan ruang
aktualisasi diri untuk menunjukkan eksistensinya dalam dunia ini karena
krisisnya sebuah identitas.
Sebenarnya,
ada hal yang mungkin tidak disadari oleh para pengguna media sosial, yakni hadirnya
karakter narsisme yang berlebihan. Narsisme
memang tidak menjadi salah ketika foto-foto yang ada memiliki sebuah intensi
untuk dokumentasi dan dikirim pada orang yang berada di tempat yang jauh. Hal
ini bertujuan untuk ‘mendekatkan yang jauh’. Menjadi hal yang memprihatinkan
ketika seseorang hanya mengambil gambar atas dirinya sendiri secara
berulang-ulang dan tidak pernah merasa puas akan foto yang ada. Saat itulah narsisme yang berlebihan mulai lahir.
Orang yang mengalami narsisme yang
berlebihan memang sangat rentan dan cenderung mengalami masalah sosial atau
asosial. Pribadi demikian akan mengalami pertentangan dalam hal bersosialiasi dengan dunia sekitar. Orang yang mengalami narsisme yang berlebihan akan selalu berkonsentrasi pada dirinya sendiri dan
acuh tak acuh pada sekelilingnya. Mereka terlihat sangat
sibuk dan seperti memiliki dunia sendiri. Pribadi demikian biasanya
mendewa-dewakan dirinya seolah-olah yang paling penting dan baik. Mereka selalu
merasa khawatir jika dirinya terlihat tidak baik dan tidak sempurna. Inilah
yang menjadi gaya hidup kaum muda zaman sekarang. Di mana mereka selalu ingin
‘terhubung’ dan menunjukkan eksistensinya pada banyak orang dengan foto-foto
narsisnya. Hal
ini tentu menghambat tingkat sosial dalam suatu kelompok.
Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri
yang sangat kuat. Namun, apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada
kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut
dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan,
mereka hanya akan memandang dirinyalah yang paling hebat dari orang lain tanpa
bisa menghargai orang lain. Dari sinilah kita belajar
untuk seimbang dalam segala hal, terutama di zaman yang makin individualistik
ini. Kita harus dapat memakai sarana yang ada karena
sebuah tujuan dan motivasi yang mendasarinya. Toh, suatu hal yang
dipakai dan digunakan secara berlebihan, hasilnya tidak akan baik bukan?
Kembali
pada ekistensi (peran) dari manusia,
yakni sebagai makhluk sosial (homo socius). Hal ini ingin menegaskan
bahwa manusia tidak akan
pernah terlepas dari komunikasi. Perkembangan teknologi yang ada tidak akan pernah
memberikan dampak negatif jika kita dapat menggunakannya secara lebih bijak dan
baik. Teknologi hanyalah alat sehingga jangan sampai kita merasa
jauh dengan orang yang ada di sekitar kita karena teknologi tersebut. Bagaimana
kita dapat mencintai diri kita sendiri, jika kita tidak pernah memiliki cinta
pada sesama? Di sinilah dibutuhkan adanya kearifan dalam penggunaannya sebagai
cara memahami dan mengendalikan dunia. Kita sebagai pengguna media tersebut juga
harus jeli dan reflektif dalam menyikapinya sehingga kita dapat menerima suatu
hal dengan baik.