Rabu, 19 Juni 2013

Manusia dan Teknologi




Ada sekelompok orang sedang berkumpul. Ketika mereka sedang bercerita dan bersenda gurau, terlihat salah seorang dari kumpulan itu malah sibuk sendiri dengan teknologi yang dimilikinya. Orang tersebut menampilkkan banyak pose dari wajahnya. Ternyata, ia sedang mengambil foto atas dirinya sendiri.
            Fenomena ini mungkin sudah tidak asing lagi di kehidupan kita. Banyak orang menjadi sibuk sendiri bahkan terlihat ‘autis’ dengan teknologi terbaru yang dimilikinya. Biasanya orang yang seperti itu sudah sangat sulit untuk diajak berbicara. Mereka hanya memikirkan agar foto atas dirinya tersebut terlihat cantik, tampan, tidak gemuk, rapih, dan seolah-olah sempurna. Mereka lebih terfokus pada teknologi yang ada di genggamannya daripada orang-orang yang ada di sekitarnya.
Perkembangan teknologi yang makin maju membuat perusahaan teknologi komunikasi berlomba-lomba untuk menunjukkan kehebatannya melalui kamera di dalam teknologinya masing-masing. Hal inilah yang membuat banyak orang sudah tidak terlalu ramai lagi menggunakan jejaring sosial hanya sebagai media sosial. Saat ini mereka lebih memilih menggunakan media sosial seperti path, instagram, facebook, dan flickr untuk ‘photo sharing’. Melalui media tersebut mereka dapat saling berbagi foto dan mengumbar foto pribadi sesuka hati mereka. Dari sinilah penyakit narsisme mulai muncul. Pertanyaannya, bagaimana teknologi informasi dapat melahirkan karakter narsisme? Apakah Anda merasa bahwa Anda lebih penting daripada orang lain? Apakah karakter narsisme yang berlebihan dapat memunculkan adanya masalah sosial?
Kemajuan teknologi makin tak terbendung. Perkembangannya begitu cepat dan selalu menampilkan inovasi terbaru. Sejak awal internet diyakini dapat membantu orang dalam hal berkomunikasi, terutama komunikasi jarak jauh. Ironisnya, hal ini justru berbanding terbalik dengan realitas yang ada. Perkembangan teknologi saat ini makin menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh (The death of distance). Internet yang ingin menjadi solusi dalam berkomunikasi malah mengisolasi komunikasi banyak orang, bahkan mengarah ke sifat individualisme.
Sebuah survei yang diselenggarakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mengungkapkan bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia tahun 2012 mencapai 63 juta orang atau 24,23 persen dari total populasi negara ini. Ironisnya, sekitar 80% postingan di media sosial merupakan sebuah cerminan diri dari penggunanya melalui album foto. Dari sinilah dapat terlihat betapa hebatnya media sosial dapat memacu seseorang untuk mengarah pada karakter narsisme.
Pribadi narsis adalah pribadi yang mempunyai keinginan untuk mendapat perhatian secara terus-menerus. Lebih dari itu, mereka ingin agar banyak orang mengamati, mengagumi, dan ‘melihat’ dia. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh media sosial terkait dengan tingkat karakter narsisme seseorang. Media sosial menjadi penting bagi mereka sebagai sebuah sarana dan ruang aktualisasi diri untuk menunjukkan eksistensinya dalam dunia ini karena krisisnya sebuah identitas.
Sebenarnya, ada hal yang mungkin tidak disadari oleh para pengguna media sosial, yakni hadirnya karakter narsisme yang berlebihan. Narsisme memang tidak menjadi salah ketika foto-foto yang ada memiliki sebuah intensi untuk dokumentasi dan dikirim pada orang yang berada di tempat yang jauh. Hal ini bertujuan untuk ‘mendekatkan yang jauh’. Menjadi hal yang memprihatinkan ketika seseorang hanya mengambil gambar atas dirinya sendiri secara berulang-ulang dan tidak pernah merasa puas akan foto yang ada. Saat itulah narsisme yang berlebihan mulai lahir.
Orang yang mengalami narsisme yang berlebihan memang sangat rentan dan cenderung mengalami masalah sosial atau asosial. Pribadi demikian akan mengalami pertentangan dalam hal bersosialiasi dengan dunia sekitar. Orang yang mengalami narsisme yang berlebihan akan selalu berkonsentrasi pada dirinya sendiri dan acuh tak acuh pada sekelilingnya. Mereka terlihat sangat sibuk dan seperti memiliki dunia sendiri. Pribadi demikian biasanya mendewa-dewakan dirinya seolah-olah yang paling penting dan baik. Mereka selalu merasa khawatir jika dirinya terlihat tidak baik dan tidak sempurna. Inilah yang menjadi gaya hidup kaum muda zaman sekarang. Di mana mereka selalu ingin ‘terhubung’ dan menunjukkan eksistensinya pada banyak orang dengan foto-foto narsisnya. Hal ini tentu menghambat tingkat sosial dalam suatu kelompok.
Seseorang yang narsis biasanya memiliki rasa percaya diri yang sangat kuat. Namun, apabila narsisme yang dimilikinya sudah mengarah pada kelainan yang bersifat patologis, maka rasa percaya diri yang kuat tersebut dapat digolongkan sebagai bentuk rasa percaya diri yang tidak sehat. Hal ini dikarenakan, mereka hanya akan memandang dirinyalah yang paling hebat dari orang lain tanpa bisa menghargai orang lain. Dari sinilah kita belajar untuk seimbang dalam segala hal, terutama di zaman yang makin individualistik ini. Kita harus dapat memakai sarana yang ada karena sebuah tujuan dan motivasi yang mendasarinya. Toh, suatu hal yang dipakai dan digunakan secara berlebihan, hasilnya tidak akan baik bukan?
Kembali pada ekistensi (peran) dari manusia, yakni sebagai makhluk sosial (homo socius). Hal ini ingin menegaskan bahwa manusia tidak akan pernah terlepas dari komunikasi. Perkembangan teknologi yang ada tidak akan pernah memberikan dampak negatif jika kita dapat menggunakannya secara lebih bijak dan baik. Teknologi hanyalah alat sehingga jangan sampai kita merasa jauh dengan orang yang ada di sekitar kita karena teknologi tersebut. Bagaimana kita dapat mencintai diri kita sendiri, jika kita tidak pernah memiliki cinta pada sesama? Di sinilah dibutuhkan adanya kearifan dalam penggunaannya sebagai cara memahami dan mengendalikan dunia. Kita sebagai pengguna media tersebut juga harus jeli dan reflektif dalam menyikapinya sehingga kita dapat menerima suatu hal dengan baik.

Selasa, 18 Juni 2013

Tugas ibd 3 KESUSASTRAAN





Misteri Kecantikan Inem


pergi dari hidupku sekarang juga” teriak seorang gadis
tapi aku bener-bener gak ngelakuin itu Linda“ bantah Paryono
seketika itu juga linda pergi meninggalkan paryono yang saat itu sedang memotong rumput. Linda adalah pembantu rumah sebelah tempat paryono bekerja . Paryono dan Linda sudah berpacaran selama 2 bulan . Sebelumnya hubungan mereka baik baik saja , tetapi semuanya berubah semenjak Inem datang sebagai pembantu tempat Paryono bekerja. Jika dibandingkan Linda , Inem lebih cantik dari Linda dan lebih sexy untuk kalangan pembantu di komplek itu . Tapi sebenernya ada misteri dibalik kecantikan Inem tersebut. Pembantu di komplek mengira bahwa Inem memakai susuk atau pelet untuk menarik pria pria tukang kebun di kompek. Mereka sepakat untuk membongkar misteri itu
pada malam jumat kliwon mereka berkumpul untuk ke jonggol untuk membongkar misteri tersebut . Rina sebagai ketua dari rencana tersebut . Akhirnya setelah sampao di jonggol mereka semua turun dari angkot dan berkumpul untuk membicarakan rencana mereka. Mereka mengikuti petunjuk yang sudah diberikan oleh Rina. Mereka menyusuri jalan setapak, melewati gelapnya malam . Hutan demi hutan mereka lewati , lembah demi lembah mereka daki . Tak jarang juga mereka bertemu dengan binatang buas yang ternyata lebih buas dari pembantu di komplek itu.
Sampai akhirnya bertemu sebuah gubuk yang menyeramkan dan sudah dipenuhi dengan sarang laba laba yang menyeramkan . Lalu mereka mendobrak pintu dan melihat seorang seorang yang sudah tua sedang menabur kembang dan mengucapkan kata yang tidak jelas . Sentak orang yang tua tersebut kaget.
ada apa ya ini ribut-ribut” tanya kakek tersebut
akhirnya mereka menanyakan tentang tentang misteri inem tersebut
kakek kenal yang inem ?” tanya Rina
Inem siapa ya ? “ tanya kakek tersebut
lalu terjadilah percakapan antara Rina dan kakek tersebut . Kakek menjelaskan bahwa Inem dulu adalah anak dari kakek tersebut . Inem kabur dari rumah karena tidak puas terhadap kebutuhan yang diberikan oleh orangtuanya . Si Inem jenuh dan dia curhat ke kakeknya tersebut. Inem ingin pergi ke kota , dia meminta kakeknya untuk dipasangkan susuk dari arwah neneknya . Si kakek menyangupi keinginan Inem. Tetapi kakek tersebut memberi syarat kepada inem untuk tidak sombong jika sudah terkenal.
Akhirnya pun mereka tau bahwa kecantikan Inem itu palsu . Mereka merasa dibodohi oleh kelakuan Inem tersebut.

tugas IBD 2 KEPEMIMPINAN

Makalah
Judul: KEPEMIMPINAN
Mata Kuliah: Ilmu Budaya Dasar

Disusun Oleh: Robertus Koekuh Agung Prasetyo
NPM: 16112653
Kelas: 1KA10
Dosen Pengasuh: Sri Hermawati

Sistem Informasi
UNIVERSITAS GUNADARMA



BAB II
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.

Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari pendapat pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sikap atau kemauan diri sendiri untuk mengarahkan orang lain atau kelompok untuk berbuat sesuatu yang telah disepakati bersama. Untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan sikap yang tegas dan punya pendirian yang kuat








Rumusan masalah


Dalam makalah sederhana ini penulis menjelaskan tentang kepempinan dalam organisasi , meliputi sikap yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin . Selain itu juga menjelaskan tentang pentingnya seorang pemimpin dalam sebuah organisasi yang berdampak pada kinerja anggota yang ada dalam sebuah organisasi tersebut


























Makalah
Judul: KEPEMIMPINAN
Mata Kuliah: Ilmu Budaya Dasar

Disusun Oleh: Robertus Koekuh Agung Prasetyo
NPM: 16112653
Kelas: 1KA10
Dosen Pengasuh: Sri Hermawati

Sistem Informasi
UNIVERSITAS GUNADARMA



BAB II
PENDAHULUAN


Latar Belakang
Kepemimpinan atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi kesejahteraan manusia (Moejiono, 2002). Ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, definisi-definisi tersebut menunjukkan adanya beberapa kesamaan.

Menurut Tead; Terry; Hoyt (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
Menurut Young (dalam Kartono, 2003) Pengertian Kepemimpinan yaitu bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
Moejiono (2002) memandang bahwa leadership tersebut sebenarnya sebagai akibat pengaruh satu arah, karena pemimpin mungkin memiliki kualitas-kualitas tertentu yang membedakan dirinya dengan pengikutnya. Para ahli teori sukarela (compliance induction theorist) cenderung memandang leadership sebagai pemaksaan atau pendesakan pengaruh secara tidak langsung dan sebagai sarana untuk membentuk kelompok sesuai dengan keinginan pemimpin (Moejiono, 2002).
Dari pendapat pendapat tersebut bisa disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sikap atau kemauan diri sendiri untuk mengarahkan orang lain atau kelompok untuk berbuat sesuatu yang telah disepakati bersama. Untuk menjadi seorang pemimpin dibutuhkan sikap yang tegas dan punya pendirian yang kuat








Rumusan masalah


Dalam makalah sederhana ini penulis menjelaskan tentang kepempinan dalam organisasi , meliputi sikap yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin . Selain itu juga menjelaskan tentang pentingnya seorang pemimpin dalam sebuah organisasi yang berdampak pada kinerja anggota yang ada dalam sebuah organisasi tersebut
































































BAB II
PEMBAHASAN


Kepemimpinan merupakan factor terpenting dalam suatu organisasi, Tindakan pemimpin akan mempengaruhi gerak suatu organisasi. Pemimpin yang dapat memerankan fungsi secara maksimal dan dapat mencapai tujuan tertentu yang disepakati dapat dikatakan sebagai kepemimpinan yang efektif. Dalam kehidupan organisasi yang didalamnya melibatkan berbagai pola interaksi antar manusia, baik secara individual maupun kelompok, masalah konflik merupakan fakta yang tidak dapat dihindarkan. Dan konflik itu sendiri merupakan proses dinamis yang dapat dilihat, diuraikan dan dianalisa. Oleh karna itu, konflik sebagai suatu proses sangat menarik dalam dunia manajemen.
Dalam organisasi manapun, rasa kebersamaan di antara para anggotanya adalah mutlak, sebab rasa kebersamaan pada hakikinya merupakan pencerminan dari pada kesepakatan antara para bawahan, maupun antara pemimpin dengan bawahan, dalam mencapai tujuan organisasi. Tapi dalam hal tertentu mungkin akan timbul ketidaksesuaian antara para bawahan (Timbul persoalan). Apabila diantara mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan, pemimpin perlu turun tangan untuk segera menyelesaiakan. Dan dalam hal memecahkan persoalan hubungan diantara bawahan, pimpinan harus bersikap adil tidak memihak.
Setiap orang pada dasarnya menghendaki ada pengakuan pada hasil karyanya dari orang lain. Demikian pula setiap bawahan dalam organisasi memerlukan adanya pengakuan dan penghargaan pada bawahannya baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
Peranan pimpinan dalam suatu organisasi adalah menciptakan rasa aman, dengan terciptanya rasa aman bawahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya merasa tidak tertanggu, bebas dari segala perasaan gelisah, kekhawatiran , bahkan merasa memperoleh jaminan keamanan dari pimpinan. Dan bagaimana seorang pemimpin itu harus berperilaku terhadap konflik, perlu berorientasi kembali kepada berbagai teori kepemimpinan yang ada.
Seorang pemimpin harus bisa menjadi contoh yang baik untuk bawahannya. Pemimpin pasti akan selalu menjadi sorotan terhadap apapun yang dia lakukan. Semakin tinggi jabatan yang kita pegang , semakin banyak rintangan yang akan kita hadapi. Jika kita sebagai pemimpin bisa bersikap baik dan sewajarnya dengan bawahan, pasti bawahan kita akan senang dan pekerjaan yang dilakukan akan lancar . Beda dengan pemimpin yang anarkis dan menang sendiri, pasti banyak orang yang tidak suka dengan sikap pemimpim tersebut. Sikap seorang pemimpin juga berpengaruh terhadap kinerja anggota dan organisasi yang dia pimpin . Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai sikap yang tegas dalam pendirian dan bisa membuat nyaman anggota yang dia pimpin.









































BAB II
PEMBAHASAN


Kepemimpinan merupakan factor terpenting dalam suatu organisasi, Tindakan pemimpin akan mempengaruhi gerak suatu organisasi. Pemimpin yang dapat memerankan fungsi secara maksimal dan dapat mencapai tujuan tertentu yang disepakati dapat dikatakan sebagai kepemimpinan yang efektif. Dalam kehidupan organisasi yang didalamnya melibatkan berbagai pola interaksi antar manusia, baik secara individual maupun kelompok, masalah konflik merupakan fakta yang tidak dapat dihindarkan. Dan konflik itu sendiri merupakan proses dinamis yang dapat dilihat, diuraikan dan dianalisa. Oleh karna itu, konflik sebagai suatu proses sangat menarik dalam dunia manajemen.
Dalam organisasi manapun, rasa kebersamaan di antara para anggotanya adalah mutlak, sebab rasa kebersamaan pada hakikinya merupakan pencerminan dari pada kesepakatan antara para bawahan, maupun antara pemimpin dengan bawahan, dalam mencapai tujuan organisasi. Tapi dalam hal tertentu mungkin akan timbul ketidaksesuaian antara para bawahan (Timbul persoalan). Apabila diantara mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan, pemimpin perlu turun tangan untuk segera menyelesaiakan. Dan dalam hal memecahkan persoalan hubungan diantara bawahan, pimpinan harus bersikap adil tidak memihak.
Setiap orang pada dasarnya menghendaki ada pengakuan pada hasil karyanya dari orang lain. Demikian pula setiap bawahan dalam organisasi memerlukan adanya pengakuan dan penghargaan pada bawahannya baik dalam bentuk verbal maupun non verbal.
Peranan pimpinan dalam suatu organisasi adalah menciptakan rasa aman, dengan terciptanya rasa aman bawahan dalam melaksanakan tugas-tugasnya merasa tidak tertanggu, bebas dari segala perasaan gelisah, kekhawatiran , bahkan merasa memperoleh jaminan keamanan dari pimpinan. Dan bagaimana seorang pemimpin itu harus berperilaku terhadap konflik, perlu berorientasi kembali kepada berbagai teori kepemimpinan yang ada.
Seorang pemimpin harus bisa menjadi contoh yang baik untuk bawahannya. Pemimpin pasti akan selalu menjadi sorotan terhadap apapun yang dia lakukan. Semakin tinggi jabatan yang kita pegang , semakin banyak rintangan yang akan kita hadapi. Jika kita sebagai pemimpin bisa bersikap baik dan sewajarnya dengan bawahan, pasti bawahan kita akan senang dan pekerjaan yang dilakukan akan lancar . Beda dengan pemimpin yang anarkis dan menang sendiri, pasti banyak orang yang tidak suka dengan sikap pemimpim tersebut. Sikap seorang pemimpin juga berpengaruh terhadap kinerja anggota dan organisasi yang dia pimpin . Oleh karena itu seorang pemimpin harus mempunyai sikap yang tegas dalam pendirian dan bisa membuat nyaman anggota yang dia pimpin.





Tugas Ibd 1 TANGGUNG JAWAB

MANUSIA DAN TANGGUNG JAWAB


BAB I
PENDAHULUAN




A. LATAR BELAKANG
Kata tanggung jawab sudah tidak asing lagi di telinga kita dan bahkan tidak jarang ada sebagian orang yang tidak mengenal arti dari tanggung jawab tersebut . Menurut Kamus Bahasa Indonesia arti kata tanggung jawab adalah keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan, diperkarakan, dsb). Hak fungsi menerima pembebanan, sebagai akibat sikap pihak sendiri atau pihak lain. Kalau ditambah imbuhan “Bertanggung jawab” berarti berkewajiban menanggung; memikul tanggung jawab, menanggung segala sesuatunya. Arti kata keadaan wajib menanggung segala sesuatunya adalah kurang lebih adalah secara tidak langsung kita dipaksa untuk menanggung akibat dari perbuatan yang kita lakukan . Ada peribahasa yang mengatakan “berani berbuat berani bertanggung jawab” , peribahasa tersebut menegaskan bahwa akibat dari perbuatan yang kita lakukan harus kitalah yang bertanggungjawab.
Perilaku tanggung jawab harus diterapkan dimana saja kita berada karena ini merupakan sifat yang terpuji, oleh karena itu kita wajib bertanggung jawab atas segala bentuk apapun yang kita perbuat, entah itu perbuatan baik ataupun tidak. Bertanggung jawab berarti kita juga telah berlaku jujur.
Tanggung jawab kita sebagai manusia itu bermacam-macam mulai dari beribadah kepada Tuhan, sampai Kalifatullahi atau sebagai seorang pemimpin.
Maka dari itu kita sebagai manusia makhluk yang sempurna harus bersikap tanggung jawab dibidang apapun atau diprofesi apapun yang kita jalani agar semua yang kita lakukan mendapat Ridho dari Tuhan yang Maha Esa.
Tanggung jawab hendaknya harus kita tanamkan sejak kecil. Jika tanggung jawab sudah kita tanamkan sejak kecil , maka secara tidak langsung kita akan berpikir sebelum bertindak . Jadi kita tidak asal dalam melakukan sebuah tindakan.

B. RUANG LINGKUP

Dalam makalah yang bertema tanggung jawab ini, penulis akan membahas tentang peran mahasiswa terhadap tanggung jawab sosial, antara lain sebagai berikut :
  1. bagaimana peran mahasiswa terhadap tanggungjawab sosial
  2. menjelaskan tentang peran moral sosial. Akademik, politik
  3. pendapat penulis tentang peran mahasiswa terhadap tanggung jawab











BAB II
PEMBAHASAN



1. Peran moral
Mahasiswa yang dalam kehidupanya tidak dapat memberikan contoh dan keteladanan yang baik berarti telah meninggalkan amanah dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar . Dalam tingkatan pelajar, mahasiswa sudah merupakan tingkatan yang paling tinggi. Jika sudah masuk tingkatan paling tinggi berarti mahasiswa harus bosa lebih dewasa dalam berpikir. Dewasa dalam berpikir bisa diartikan mahasiswa dapat membangun moral diri sendiri. Jika hari ini kegiatan mahasiswa berorientasi pada hedonisme (hura – hura dan kesenanggan) maka berarti telah berada persimpangan jalan dan tidak layak disebut sebagai mahasiswa. Jika mahasiswa hari ini lebih suka mengisi waktu luang mereka dengan agenda rutin pacaran tanpa tahu dan mau ambil tahu tentang perubahan di negeri ini maka mahasiswa semacam ini adalah potret “generasi yang hilang “yaitu generasi yang terlena dan lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.

2.         Peran sosial
Mahasiswa harus menumbuhkan jiwa-jiwa sosial yang dalam atau dengan kata lain solidaritas sosial. Solidaritas yang tidak dibatasi oleh sekat sekat kelompok, namun solidaritas sosial yang universal secara menyeluruh serta dapat melepaskan keangkuhan dan kesombongan. Mahasiswa tidak bisa melihat penderitaan orang lain, tidak bisa melihat poenderitan rakyat, tidak bisa melihat adanya kaum tertindas dan di biarkan begitu saja. Mahasiswa dengan sifat kasih dan sayangnya turun dan memberikan bantuan baik moril maupun materil bagi siapa saja yang memerlukannya. Mahasiswa hendaknya menjadi motor penggerak dalam hubungannya dengan kehidupan sosial. Jika bukan mahasiswa siapa lagi yang akan mulai bergerak dalam bidang sosial ? Oleh karena itu mahasiswa lah yang harus memulai.

3.         Peran Akademik
Sesibuk apapun mahasiswa, turun kejalan, turun ke rakyat dengan aksi sosialnya, sebanyak apapun agenda aktivitasnya jangan sampai membuat mahasiswa itu lupa bahwa adalah insan akademik. Mahasiswa dengan segala aktivitasnya harus tetap menjaga kuliahnya. Setiap orang tua pasti ingin anaknya selesai kuliah dan menjadi orang yang berhasil. Oleh karena itu akademik haruslah menjadi nomer 1 dan yang paling utama. Percuma saja jika kita bergerak dalam bidang sosial, politik , dan budaya tetapi tidak ada landasan pemikiran yang benar. Maka sebagai seorang anak berusahalah semaksimal mungkin untuk dapat mewujudkan keinginan itu, untuk mengukir masa depan yang cerah dan membahagiakan orang tua.





4. Peran politik
Peran politik adalah peran yang paling berbahaya karena disini mahasiswa berfungsi sebagai presseur group ( group penekan ) bagi pemerintah yang zalim. Oleh karena itu pemerintah yang zalim merancang sedemikian rupa agar mahasiswa tidak mengambil peran yang satu ini. Pada masa ordebaru di mana daya kritis rakyat itu di pasung, siapa yang berbeda pemikiran dengan pemerintah langsung di cap sebagai makar dan kejahatan terhadap negara. Mahasiswa adalah kaum terpelajar dinamis yang penuh dengan kreativitas. Mahasiswa adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari rakyat. Sekarang mari kita pertanyakan pada diri kita yang memegang label Mahasiswa, sudah seberapa jauh kita mengambil peran dalam diri kita dan lingkungan.

Pendapat penulis terhadap tema yang diangkat bahwa sebagai mahasiswa yang sudah bukan anak SMA, SMP, ataupun SD harus bisa lebih bertanggung jawab dalam melakukan tindakan. Mahasiswa sudah melalui tahap-tahap yang panjang dalam bidang persekolahan . Tindakan yang dilakukan mahasiswa harus lebih bertanggung jawab. Semakin tinggi tingkat pendidikan kita, dituntut pula tanggung jawab yang lebih besar.